TahukahTahukah kau bagaimana perasaanku kini,setelah setiap saat kita bersama, dalam hubungan yang serba lekat, bagai dua insanyang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Tidak… sangat mungkin kau tidak tahu.Aku tahu kau tidak senang mengerti perasaanku. Kau hanya ingin menikmatikebahagiaan dari kebersamaan ini tanpa pernah bertanya, apakah aku turutmerasakan kebahagiaan itu. Kau selalu menganggap semuanya baik-baik saja. Setiapkali kau memanggilku, dengan segera aku datang… datang sebagaimana yang kauharapkan. Kamu tentu masih bisa mengingat tahapdemi tahap kebersamaan yang kita lewati. Semua berawal dari pertemuansederhana, mirip peristiwa kebetulan di salah satu sudut pasar, tempat beberapatukang ojek sering menunggu penumpang.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Semacam jurus kesabaran yang meretas garis-garistakdir yang tersendat. Waktu itu, aku juga mirip tukang ojek yang beradu kuatdengan waktu tapi sedang sial, karena tak ada orang yang peduli denganku,kecuali kau. Tanpa sengaja, mataku tertuju padamu yang baru saja keluar darisalah satu toko alat kosmetik, membawa barang belanjaan yang begitu banyak. Kaumenghampiriku…”Tolong antar saya ke Jalan Merdeka, di PondokGagah-Jelita…”Aku pun mengatarmu hingga gerbang PondokGagah Jelita, kau sedikit malu-malu saat menyodorkan uang kepadaku…”Maaf aku bukan tukang ojek… aku hanyamirip tukang ojek”Tapi… sudahlah, itu telah menjadikenangan kecil dalam cerita kita. Setelah itu, aku sering datang ke PondokGagah Jelita, entah karena kau memanggilku, atau memang keinginanku sendiri.

Disana, kau menyiapkan kamar kecil, dengan bantal dan permadani bergambar hati.Meski kecil, kamar itu menciptakan keakraban yang luar biasa buat kita. Dikamar kecil itu, aku bisa tahu banyak hal tentangmu. Aku tahu hal-halpribadimu, mulai dari hari ulang tahun sampai posisi yang nyaman bagimu saattertidur. Lalu keakraban itu menjadi jalan bagikita untuk saling berharap. Entah apa arti sebuah harapan.  Di sebuah ujung malam, kugenggam tanganmu,kudengar hatimu sedang berbisik, seperti pula bisikan hatiku, kita salingmembutuhkan dalam banyak hal.

Dan dalam genggaman tangan yang erat itulah, kitamencoba membuat sebuah komitmen untuk saling memberi dan membahagiakan, dimanadan kapan saja. Aku masih sangat mengingat, bagaimana tatapan matamu saat itu. Hingga saat ini aku selalu membawakansenyum untukmu, memapah, dan menyeka debu yang sempat menempel di betisindahmu. Sebagaimana aku, kau pun sering hadir mengisi malam-malam sepiku,mendendangkan lagu-lagu bertema cinta, meski tanpa petikan gitar atau atautabuhan drum. Kita sangat konsisten dengan komitmen itu bukan?… Tapi di sisi lain, lambat laun aku mulaimerasa kalau ada yang salah dari kisah kita.

 Kesadaran tak terjamahku muncul, sepertinya kebahagiaan sejati akan menjadihampa bila hanya terlahir dari komitmen, janji-janji, sumpah dan semacamnya. Semacamketerpaksaan yang membuat segalanya menjadi kaku. Dan perlahan, komitmen itu tidaklebih dari rasa saling tidak percaya, rasa takut, dan rasa ragu akan terjadinyaperubahan, di antara kita. Aku mulai khawatir, jangan-janganhubungan kita memang hanya berdiri di atas komitmen itu. Jangan-jangan kitasudah tidak punya keikhlasan lagi untuk saling memberi dan menerima. Inisedikit buruk untuk kukatakan. Tapi ini penting, agar kita tidak hidup seperti pelacur,yang hanya karena komitmen untuk saling memberi dan menerima, kita bersedia melakukansegalanya, meski dengan hati yang sudah jauh dari ketulusan.

***Tahukah kamu bagaimana perasaanku kini,malam ini, saat kau kembali memintaku bercerita di sisimu. Seperti biasa, kaumemitaku bercerita sambil duduk di atas balai bambu ini, sementara kauberbaring dipangkuanku, menatap rembulan dan bintang-bintang di kejauhan sana.Kau tidak tahu apa yang kupikirkan bukan… kau hanya memperhatikan segala yangkuceritakan, lalu tertidur sebelum ceritaku selesai. Sebenarnya malam ini, aku telah kehabisanbahan cerita untukmu. Hampir semua kisah yang kutemukan dalam hidupku telahkuceritakan kepadamu. Tapi kau akan mengingkari kehadiranku bila tanpa cerita.Kau sudah sangat ketagihan dengan cerita-cerita malam kita. Tapi tenanglah… karena malam ini aku akantetap bercerita untukmu, meski dengan metafora yang semakin buruk.

Tetaplah berbaring di pangkuanku,setidaknya hingga fajar menyadarkan kita dari mimpi-mimpi ini. Tadi sore akubertemu dengan Dewa Kebahagiaan, dan Dia bertanya kepadaku…”Hal apa yang paling kau inginkan dalamhidupmu?”Dan aku pun menjawab…”Aku ingin hidup bahagia di istanasuraloka, dengan orang yang kusayangi…”Tapi Dewa Kebahagiaan hanya tertawa. Diamenertawaiku, seakan mengejek.

Tak ada negeri di suraloka, dia hanya ada dalamdunia dongeng . Dewa Kebahagiaan memintaku untuk meninggalkan orang yangkusayangi itu.”Bila kau ingin bahagia danmembahagiakannya, tinggalkanlah dia… kalian akan jauh lebih bahagia bila salingmeninggalkan, belajarlah menjadi sosok yang lengkap tanpa dilengkapi oleh siapapun.”Orang yang kusayangi itu adalah kau…Mungkin ini adalah cerita paling buruk dari cerita yang pernah kusampaikankepadamu. Esok atau lusa, kuharap kau bisa membuat, atau setidaknya menemukancerita yang jauh lebih indah, meski tanpa aku. Kuharap kau tetap mengingatku,mengingat malam ini, seperti lambaian jemari hitam yang menebar kabut, sebelummatahari pagi datang membangunkan sang bumi.Tetaplah dalam pusaran wangi malamjiwaku.

Esok, saat kau terbangun, balai bambu ini akan menjadi istana, denganpuri dan singgasananya yang suci. Kubayangkan kau akan berjalan bebas, memilihuntuk menjadi waras atau sekalian gila. Karena itu adalah istanamu, kau bisamerawat atau merusaknya. Menanami bunga, atau membuang kotoran di setiapsudut-sudut tamannya.  Tentu saja aku tidak punya selera untuk menggugatnaluri liar, apalagi menyesali segala yang telah terjadi dalam diri kita. Sayahanya ingin kita bisa lebih baik, saling memahami tanpa harus saling meminta,untuk sebuah cerita.

Aku ingin kita sama-sama terbebas dari segala macam belenggudan ikatan, karena dengan begitu, kita betul-betul akan menemukan kebahagiaansejati, kebahagiaan yang bisa diandalkan untuk menapak masa depan kita. Sebaiknya kita tidak perlu lagi salingmemiliki, sebab aku memang bukan milikmu, dan tentu saja kau juga bukan milikku.Kita hanyalah insan yang mencoba mengawinan perasaan, karena kebetulan kitamemiliki kemiripan emosi, dan mungkin, kita memiliki kepentingan hasrat yangsama.

Tapi aku lebih percaya, kalau emosi dan kepentingan hasrat ini hanyasesaat. Mungkin lebih baik hidup dalam kemunafikan, daripada memelihara kotoranperasaan dan kejenuhan.***Tahukah kau bagaimana perasaanku kini,saat kau telah berani meminta hal-hal yang sangat berarti dalam hidupku. Akumemang tak punya alasan untuk menolak apa pun yang kau minta dariku.

Akumenghargai kebersamaan kita, melebihi apa pun di dunia ini. Tapi apakahkebersamaan ini harus selamanya begini, tanpa pernah diwarnai dengan perbedaanwalau hanya setitik… Apakah aku tidak berhak menolak sedikit pun setiap kalikau memintanya…Kau seolah tidak tahu, betapa sulitnyamemberikan sesuatu yang sangat berharga, namun kita tidak bisa menolak, karenaorang yang memintanya adalah orang yang kita sayangi. Kau juga seolah tidak mengerti,betapa sulitnya melakukan hal yang dibenci, namun terpaksa dilakukan, demimembahagiakan orang yang kita sayangi.  Padahal kau sangat mengenal diriku.

Mestinyakau tahu hal apa yang kusenangi dan hal apa yang kubenci dalam hidupku. Mestinyakau menyisahkan sedikit ruang kemerdekaan, dengan memberiku pilihan untukmemberi atau tidak memberi, sebab bagaimana pun aku terlahir dengan segumpaldaging yang bernama hati… ya, aku punya hati yang bagaimana pun rapuhnya, tetappunya suara dan bisikan keinginan.Setiap pagi aku seperti dibangungkan olehkeharusan-keharusan kecil yang menyengat. Setiap pagi kau telah berdiri di pintukamarku, dan aku sudah tahu apa yang harus kulakukan, untukmu. Aku harus segeramandi, lalu mengenakan kaos putih bertuliskan “Gagah-Jelita, kamar 07″… ya, akuharus memakai baju itu, untuk menyenangkanmu. Baju itu melambangkankehormatanmu. Selain itu, tentu saja aku harus menyemprot badanku dengan parfumkhas anak muda modern, memakai sepatu kulit yang dibuat di luar negeri tapibahannya berasal dari hutan-hutan dalam negeri, jam tangan yang lengkap dengancatatan bulan dan tahun… akh terlalu banyak hal yang harus kulakukan untukmemenuhi keinginanmu, sejujurnya aku mulai jenuh dengan semua itu.

  Kau selalu memintaku melakukan sesuatuuntukmu, sebelum aku sempat meminta dirimu melakukan sesuatu untukku. Akuselalu kalah dan kehilangan momentum… tapi bukan, bukan itu yang membuatkumengatakan semua ini, lalu seolah-olah aku terlihat sedih. Aku mengatakan iniuntuk menghargaimu, menghargai kebersamaan kita.

Aku tidak ingin kita terasinglalu terjebak pada kekosongan esensi. Aku ingin kita saling memahami, memberi”nama” cantik dari hubungan ini. Berhentilah memintanya, karena denganberhenti meminta, maka kau akan menyediakan kesempatan kepadaku untuk memberidengan hati yang tulus. Ketahuilah, aku bisa memberimu lebih dari apa yang kauminta.***Tahukah kau bagaimana perasaanku kini,dengan separuh nafas yang sama-sama kita genggam. Banyak hal yang telah kitalewati bersama.

Kita sama belajar, mengecap pahit-manis kehidupan, melewatimomen-momen indah, krusial dan menegangkan. Kita selalu berusaha mempertanggungjawabkanhidup kita masing-masing, kadang-kadang dengan jalan yang sedikit naif, salingmembohongi, demi menjaga suasana. Kita, aku dan kau… Tahukah kau arti semuaini…

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out