Profil Self-EfficacySiswa SMA dengan Model Pengajaran Inkuiri Materi Momentum, Impuls, dan TumbukanMamim Zumroatun1), Woro Setyarsih2),dan Lydia Rohmawati 1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika,FMIPA, UNESA, Alamat e-mail: [email protected])Dosen Jurusan Fisika, FMIPA, UNESA, Alamate-mail: [email protected]

id Abstrak Penelitianini bertujuan untuk mengetahui upaya peningkatan self-efficacy siswa melalui penerapan pengajaran inkuiri padamateri momentum, impuls dan tumbukan. Desain dalam penelitian ini adalah “One Group Pre-Test and Post-Test”. Instrumenyang digunakan dalam penelitian ini adalah: lembar angket self-efficacy sebagai instrumen utama dan lembar pengamatanperilaku self-efficacy sebagaiinstrumen pendukung. Subjek penelitian ini sebanyak  79 siswa kelas X di SMAN 19 Surabaya. Hasilpenelitian didapatkan: (1) nilai rata-rata self-efficacy siswa berdasarkanhasil angket meningkat dari pre-test ke post-test pada tiap Dimensinya; (2)Nilai rata-rata perilaku self-efficacy siswa mengalami peningkatakan padasetiap pertemuannya; (3) Terdapat hubungan positif antara self-efficacy dengan hasil belajar dengan koefisien regresi sebesar1,539.

Kata-kata kunci:Inkuiri, Self-efficacy, momentum,impul dan tumbukan.   AbstractThis study aims todetermine the implementation of inquiry teaching model, student self-efficacy,student learning outcomes, and relationship between self-efficacy withstudents’ learning outcomes through the application of inquiry teaching onmomentum, impulse and collision materials. The Design in this study is “OneGroup Pre-Test and Post-Test”. Instrument used are self-efficacy questionnairesas main instrument and self-efficacy behavior checklists as supportinginstrument. The subjects of this study were 79 students of class X at SMAN 19Surabaya. The results of this study indicated that: (1) The average studentself-efficacy score based on the questionnaire increased from pre-test topost-test in each dimension; (2) The average value of students self-efficacybehaviors has improved at each meeting; (3) there is a positive relationshipbetween self-efficacy and learning outcome with regression coefficient of 1,539.Keyword: Inquiry,Self-efficacy, momentum, impulse and collision.

 PENDAHULUAN Penerapan Kurikulum 2013 saat inimenuntut pembelajaran yang berbasis scientificapproach yang merupakan konsep dasar dalam melatarbelakangi perumusanmetode mengajar dengan karakteristik yang ilmiah. Permendikbud Nomor 65 Tahun2013 tentang Prinsip Pembelajaran yang diterapkan salah satunya adalah mengubahdari pendekatan tekstual menjadi pendekatan berbasis masalah, berbasis proyek, discovery, dan inkuiri.  Modelpengajaran inkuiri merupakan proses pembelajaran dimana siswa mengikuti metodedan praktik dengan profesional untuk membangun pengetahuannya.

Dalam modelpengajaran inkuiri siswa terlibat di dalam pembelajaran, merumuskan pertanyaan,menginvestigasi, dan membangun sebuah pemahaman baru (Pedaste, et al, 2015;Branch & Oberg, 2004). Dengan menerapkan inkuiri, Kurikulum 2013menghendaki student centered dalam pembelajaran dimana guru diharuskan untukmemperhatikan perbedaan individu setiap siswa (Permendikbud Nomor 103 Tahun2014; Puspita, 2016). Perbedaan individu siswa dapat berupa kognitif, afektif,psikologis, dan lain sebagainya (Makmun, 2000; Santrock, 2009). Adapun beberapafaktor psikologis dalam diri siswa antara lain: self-efficacy, motivasi, dan lain sebagainya (Santrock, 2009). Banyak studi yang membahastentang self-efficacy didalampendidikan sains.

Self-efficacy dalamsains sangat mempengaruhi pembelajaran sains, pilihan sains, jumlah usaha yangdiberikan, dan ketekunan sains, selain itu self-efficacy juga memainkan peranutama dalam proses pengambilan keputusan siswa saat memilih sebuah profesi(Tenaw, 2013; Dou, 2017; Bernasconi, 2017). Self-efficacytidak hanya sumber informatif kepada siswa, tetapi juga menghasilkan self-regulatory, seperti meningkatkanbelajar untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi, jika self-efficacy siswa rendah sangat berpengaruh pada kegagalan dalampembelajaran fisika khusunya (Nissen dan Shemwell, 2016; Suprapto et al, 2017).Pada dasarnya hakekat fisika,yakni sebagai proses, produk, dan sikap perlu dijadikan sebagai dasar pemikirandalam pencapaian tujuan pembelajaran fisika, salah satunya dapat ditandaidengan adanya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar siswa padaaspek pengetahuan bisa ditentukan melalui nilai yang diberikan guru terhadapsiswa sebagai hasil proses pembelajaran fisika di sekolah.Untuk dapat menumbuhkan ataumeningkatkan self-efficacy dan hasilbelajar siswa diperlukan model pengajaran yang sesuai, salah satunya adalahmodel pengajaran inkuiri. Rahayu dan Syarief (2015) menggunakan modelpengajaran inkuiri untuk meningkatkan self-efficacysiswa dalam pembelajaran kimia, diperoleh nilai rata-rata self-efficacy mengalami peningkatan.

Hal ini diperkuat oleh Jansen,et al (2015) yang menemukan bahwa self-conceptdan self-efficacy merupakan duamotivasi yang paling penting dari pendidikan, self-concept lebih dipengaruhi oleh prestasi teman sebaya,sedangkan self-efficacy sangatdipengaruhi oleh inquiry based learning.Kock, et al (2015) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk meningkatkanpemahaman konsep siswa dengan menggunakan model pengajaran inkuiri, diperolehpemahaman konsep siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan penelitian tersebut self-efficacy dan hasil belajar denganmodel pengajaran inkuiri sangat diperlukan dalam pembelajaran fisika, gunamenumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan danmeningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika khusunya.Berdasarkan uraian di atas, makapeneliti melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Fisika dengan ModelPengajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Self-Efficacydan Hasil Belajar Siswa SMA Kelas X Materi Momentum, Impuls dan Tumbukan”.

 METODEJenis penelitian yang digunakan adalah pre experimental design denganmenggunakan dua kelas yang diberi perlakuan sama. Subjek dalam penelitian inisebanyak 79 siswa kelas X SMAN 19 Surabaya. Penelitian dilakukan pada semestergenap 2016/2017. Desain penelitian ini adalah “One Goup Pre-Test and Post-Test” O1            X             O2   Keterangan:O1   = Pengukuran self-efficacy dan hasil belajar siswa sebelum perlakuan (pre-test)X   = Perlakuan (pembelajaran dengan model pengajaran inkuiri)O2   = Pengukuran self-efficacy dan hasil belajar siswa setelah perlakuan (post-test)      Pelaksanaanpenelitian ini mempunyai tiga tahapan, yakni tahap awal, tahap pelaksanaan, dantahap akhir. Penelitian ini terdapat perangkat dan instrumen yang digunakan,antara lain yaitu silabus, RPP, handout,LKS, lembar observasi keterlaksanaan, lembar angket self-efficacy, lembar pengamatan perilaku self-efficacy, dan lembar tes.      Data self-efficacydianalisis berdasarkan dimensi-dimensinya yakni dimensi magnitude, strength, dan generality.Data hasil belajar siswa dianalisis dengan uji n-gain, kemudian untuk melihat apakah peningkatan hasil belajarsiswa signifikan atau tidak dilakukan uji-t satu pihak. Untuk menguji hipotesisapakah model pengajaran inkuiri mampu meningkatkan self-efficacy dan hasil belajar siswa maka dilakukan uji-tberpasangan.

Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui hubunganantara self-efficacy dengan hasilbelajar siswa.      Analisis butir soal dengan menggunakan 4kriteria yaitu: validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda(Arikunto, 2010). Berdasarkan uji coba soal diperoleh 19 soal valid, dan semuasoal reliabel dengan hasil perhitungan r11?rtabel yakni0,882?0,334. Dengan mempertimbangkan 4 kriteria tersebut total soal yangdigunakan untuk evaluasi adalah 19 soal dari 22 soal yang diuji cobakan.                HASIL DAN PEMBAHASAN      Analisisdata self-efficacy diperoleh melaluidua instrumen yakni angket self-efficacydan pengamatan perilaku self-efficacy.Hasil penelitian menunjukkan self-efficacysiswa mengalami peningkatan pada setiap dimensi self-efficacy saat pre-testdan post-test seperti yang terlihatdalam Tabel 1. berikut:Tabel 1. Hasil Analisis Self-EfficacySiswa Dimensi Krite-ria Persentase (%) X-MIA 2 Persentase (%) X-MIA 6 Pre-test Post-test Pre-test Post-test Magnitude ST 10 45 11 34 T 75 55 71 66 CT 15 – 18 – R – – – – Strength ST 15 67 15 23 T 73 33 67 77 CT 12 – 18 – R – – – – Generality ST 15 77 8 51 T 65 23 67 49 CT 20 – 25 – R – – – –          Berdasarkan Tabel 1.

di atas,menunjukkan adanya peningkatan rata-rata self-efficacysiswa pada setiap dimensi self-efficacy saat pre-test ke post-test. Untuklembar pengamatan perilaku self-efficacykelas X-MIA 2 rata-rata mengalami peningkatan, pada pertemuan pertama sebesar71 dengan kriteria tinggi, sedangkan pada pertemuan kedua sebesar 85 dengankriteria sangat tinggi, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu danSyarief (2015) bahwa self-efficacysiswa mengalami peningkatan setelah melalui penerapan model pengajaran inkuiri.Dalam kelas X-MIA 2 terdapat satu anak yang tidak mengalami peningkatan self-efficacy saat pre-test dan post-testmaupun dalam pengamatan perilaku self-efficacytiap pertemuannya, hal ini bisa terjadi dikarenakan selama proses pembelajaransiswa tersebut tidak antusias dengan pelajaran fisika. Siswa dengan self-efficacy rendah pada pembelajarandapat menghhindari banyak tugas belajar, khususnya yang menantang (Santrock,2009:216).Gambar1. Diagram peningkatan perilaku self-efficacy         Untuk self-efficacy siswa X-MIA 6 yangditunjukkan oleh Tabel 1. juga mengalami peningkatan, seperti yang diungkapkanJansen, et al (2015) jika self-efficacylebih dipengaruhi oleh kesempatan belajar berbasis inkuiri. Namun siswa dengannomor absen 8, 12, dan 13 mengalami penurunan saat pre-test dan post-test,hal ini bisa terjadi karena ada beberapa faktor penyebab seperti keadaanfisiologis, dan emosional siswa, kecemasan yang terjadi dalam diri siswa ketikamelakukan tugas sering diartikan sebagai kegagalan (Bandura, 1997:79).

         Lembar pengamatan perilaku self-efficacy X-MIA 6 pertemuan pertamadiperoleh nilai rata-rata sebesar 64 dengan kriteria tinggi, sedangkan untukpertemuan kedua sebesar 83 dengan kriteria sangat tinggi. Untuk siswa yangmengalami penurunan saat pre-test danpost-test tidak terjadi penurunansaat pengamatan perilaku, hanya siswa nomor absen 8 yang mendapat nilai tetapdisetiap pertemuannya. Hal ini dikarenakan saat proses pembelajaran siswa nomorabsen 12 dan 13 termasuk siswa yang aktif, seperti berani meyampaikan pendapat,dan berani bersaing dengan teman-temannya. Dengan demikian self-efficacy juga penting diperhatikan dalam pembelajaran fisika(Nissen dan Shemwell, 2016).         Hasilbelajar siswa setelah diterapkan model pengajaran inkuiri dianalisis dengan n-gain dan uji-t satu pihak denganmenggunakan hasil pre-test dan post-test. Berikut adalah gambaran umumhasil belajar siswa setelah dianalisis dengan n-gain score:Gambar2.

Diagram peningkatan hasil belajar siswa Berdasarkan Gambar 2 di atas terlihat bahwa baik siswa X-MIA 2 maupun X-MIA 6rata-rata mempunyai hasil belajar berkategori sedang. Untuk hasil belajarberkategori tinggi yang paling banyak ada di kelas X-MIA 2 yakni sebesar 45%dibandingkan dengan X-MIA 6 yang hanya 26%. Sedangkan untuk rata-rata nilai n-gain untuk siswa X-MIA 2 dan X-MIA 6berturut-turut yaitu 0,65 dan 0,54. Untuk memastikan apakah peningkatan hasilbelajar siswa di kedua kelas signifikan atau tidak, maka dilakukan uji-t satupihak didapatkan thitung sebesar 4,952 dan ttabel sebesar1,66, hal ini berarti thitung ? ttabel sehinggapeningkatan hasil belajar siswa di kedua kelas signifikan.         Selain itu hasil belajar siswa jugadianalisi menggunakan uji-t berpasangan guna melihat apakah model pengajaraninkuiri mampu meningkatkan atau menumbuhkan hasil belajar atau tidak.

Darihasil uji-t berpasangan diperoleh nilai thitung  pada kelas X-MIA 2 dan X-MIA 6 secara berturut-turutadalah sebesar 16,67 dan 13,71, sedangkan nilai ttabel dengan tarafsignifikan 0,05 adalah 2,02, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa modelpengajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar maupun self-efficacy siswa, hal ini sesuai dengan penelitian Mustachfidoh,dkk (2013) bahwa siswa yang mengikuiti pembelajaran inkuiri lebih ungguldibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung.         Untuk mengetahui apakah self-efficacy memberikan konstribusiterhadap hasil belajar siswa maka dilakukan analisis regresi liniersederhanadan diperoleh a sebesar-44,461 dan b sebesar 1,539 denganN=40 untuk X-MIA 2, sedangkan untuk X-MIA 6 diperoleh a sebesar -62,916 dan bsebesar 1,676 dengan N=39. Apabila koefien regresi (b) bernilai positif maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubunganyang positif antara self-efficacydengan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian Lindstrom danSharma (2011) bahwa self-efficacymempengaruhi prestasi akademik siswa yang belajar fisika.

Sama halnya denganhasil penelitian Suprapto, et al (2017) yang menyatakan bahwa self-efficacy tidak hanya sumberinformatif kepada siswa, namun self-efficacyjuga merupakan prediktor prestasi akademik. Besar kecilnya konstribusi self-efficacy terhadap hasil belajarsiswa pada kelas X-MIA 2 sebesar 50,80%  self-efficacy memberikan konstribusiterhadap hasil belajar dan 49,20% oleh faktor lain, sedangkan pada kelas X-MIA6 self-efficacy berkonstribusisebesar 41,46% dan 58,52% oleh faktor lain. Faktor lain yang mempengaruhi hasilbelajar siswa antara lain motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dankebiasaan belajar ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis (NanaSudjana, 2009:39).PENUTUPSimpulan         Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yangdilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai angket self-efficacy siswa mengalami peninngkatan pada setiap dimensinyasetelah diterapkan model pengajaran inkuiri, ini juga didukung oleh hasilpengamatan perilaku self-efficacy, terlihat bahwa perilaku self-efficacy mengalamipeningkatan pada setiap pertemuannya. Berdasarkan uji-t berpasangan modelpengajaran inkuiri dapat meningkatkan self-efficacydan hasil belajar siswa. Terdapat hubungan positif sebesar  1,539 pada kelas X-MIA 2 dan 1,676 pada kelasX-MIA 6 antara self-efficacy denganhasil belajar siswa setelah diterpakan model pengajaran inkuiri.

 SaranDenganmemperhatikan hasil penelitian di atas agar kegiatan belajar fisika lebih baikdan efektif bagi siswa, maka saran yang dapat diberikan adalah: penerapan modelpengajaran inkuiri mampu digunakan untuk meningkatkan self-efficacy dan  hasilbelajar siswa, untuk itu perlu diterapkan juga pada materi fisika lain yangmemiliki karakteristik cocok dengan model pengajaran inkuiri; setelah penerapanmodel pengajaran inkuiri sebanyak 50,80% self-efficacymemberikan konstribusi terhadap hasil belajar, sehingga penelitian dapatdikembangkan lebih luas lagi untuk diteliti mengenai motivasi siswa dalambelajar, atau kemampuan siswa dalam berkomunikasi. DAFTAR PUSTAKA Arikunto,Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktik. Jakart: Rineka CiptaBandura, A.

1997. Self-Efficacy: The Exercise of Control. NewYork, NY: FreemanBranch, Dr. Jennifer. and Oberd, Dr.

Dianne.2004. Focus on Inquiry. Canada:Alberta LearningDou, Remy. 2017.

The Interactions of Relationships, Interest,and Self-Efficacy in Undergraduate Physics. FIU Electronic Theses and Dissertations. 3228. FloridaInternational University. http://digitalcommons.fiu.edu/etd/3228  (online) (diunduh pada 27 September 2017)Feantoby, Amy.2012.

The Use of the ‘Teaching as InquiryModel’ to Develop Students’ Self-Efficacy in Literature Response Essay Writing.Kairaranga – Volume 13, ISSUE 1: 2012 Tersedia https://Eric.Ed.Gov/?Id=EJ976662(diunduh pada 2 Desember 2016)Jansen, Malte. Et Al. 2015. Students’ Self-Concept andSelf-Efficacy in the Sciences: Differential Relations to Antecedents andEducational Outcomes.

Contemporary Educational Psychology 41 (2015) 13–24. Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 2Desember 2016)Kock,Zeger-Jan. et al. 2015. Creating a Culture of Inquiry in the Classroom WhileFostering an Understanding of Theoretical Concept in Direct Current ElectricCircuit: A Balance Approach.

International Journal of Science andMathematics Education, 13(1), 45-69. (online)(diunduh pada 7 Maret 2017).Lindstrom,Christine. and Sharma, Manjula D.

2011. Self-Efficacy of First Year UniversityPhysics Student: Do Gender and Prior Formal Instruction in Physics Matter?”. InternationalJournal of Innovation in Science and Mathematics Education, 19(2), 1-19.(online)(diunduh pada 1 Maret 2017).

Makmun, H. Abid Syamsudin. 2000. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul.

Bandung:PT. Remaja Rosdakarya. Mustachfidoh,Dkk. 2013. Pengaruh Model PembelajaranInkuiri Terhadap Prestasi Belajar Biologi Ditinjau dari Inteligensi Siswa SMANegeri 1 Srono.

E-Journal Program Pascasarjana Universitas PendidikanGanesha. (Online) Volume 3 Tahun 2013. (diunduh pada 2 Desember 2016).NanaSudjana. 2009. Penilaian Hasil ProsesBelajar Mengajar. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.Nissen,Jayson M. Et Al. 2016. Gender, Experience, and Self-Efficacy in IntroductoryPhysics.

Physical Review PhysicsEducation Research 12, 020105.Pedaste,  Margus. Et Al. 2015. Phases of Inquiry-Based Learning:Definitions and the Inquiry Cycle.

EducationalResearch Review 14 (2015) 47–61. Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 9 Desember 2016 ).PeraturanMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah (Salinan)PeraturanMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014Tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Salinan)Puspita, Wita Ratna. 2016.

Upaya Meningkatkan Self-Efficacy MelaluiMidle Learning Cycle 5E pada Pokok Bahasan Perbandingan. Jurnal Pendidikan,(Online), ISBN. 978-602-73403-1-2,(diunduh pada 9 Desember 2016).Rahayu, Setyorini Puji. danSyarief, Sri Hidayati. 2015. PenerapanModel Pembelajran Inkuiri untuk Meningkatkan Self-Efficacy Siswa pada MateriPokok Laju Reaksi Kelas XI-MIA di SMA Muhammadiyah 4 Sidayu Gresik.

(Online) Unesa Journal OfChemical Education Vol.4, No.1, Pp.

49-55, January 2015 ISSN: 2252-9454(diunduh pada 4 Januari 2017)Suprapto,Nadi. et al. 2017. Conception of LearningPhysics and Self-Efficacy Among Indonesian University Student. Journal ofBaltic Science Education. ISSN 1648-3898.

(online) (diunduh pada 1 Maret 2017).Tenaw,Yazachew Alemu. 2013. RelationshipBetween Self-Efficacy, Academic Achievement and Gender in Analitycal Chemistryat Debre Markos College of Teacher Education. AJCE, 2013, 3(1). ISSN2227-5835. (online) (diunduh pada 1 Maret 2017).

 

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out