PENGUATANBAHASA DAN BUDAYA LOKAL MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER  DAN PEMBELAJARAN MORAL UNTUK MEMBANGUNPERSATUAN DAN PERADABAN BANGSA (Oleh: Muhammad Rizal Pahleviannur)Universitas Muhammadiyah Surakarta I.

    PENDAHULUANKarakter bangsa merupakan sebuahanugerah yang diberikan Sang Pencipta Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk terusdipertahankan keberadaannya dengan berbagai upaya pelestarian ke generasipenerus bangsa. Karakter suatu bangsa menjadi sebuah pilar penting dalammenjalankan berbagai roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakter bangsaibarat kemudi dalam kehidupan dan bernegara, yang artinya menjadi nakoda dandasar pokok pikiran dalam menjalani semua kehidupan dalam tatanan masyarakat,bangsa dan negara. Tugas bangsa Indonesia dalam mengisikemerdekaan adalah dengan mengutamakan pelaksanaan nation and character building.

Pendiri bangsa mengingatkan bahwa,”Jika pembangunan karakter bangsa tidak berhasil, maka bangsa Indonesia akanmenjadi bangsa kuli.” Maksudnya kalimat tersebut adalah pembangunan karakterpada masyarakat akan menumbuhkan pendidikan moral sosial yang dapat digunakandalam menjalankan sebuah kehidupan bermasyarakat yang baik dan terhindar dariberbagai permasalahan kebudayaan dan kebangsaan. Dengan adanya fenomena yangterjadi seperti ini, wajar jika pemerintah menjadikan pendidikan karaktersebagai sebuah program yang unggul dan akan dijadikan bentuk implementasi dalammasalah bangsa Indonesia. Ini artinya pemerintah serius dalam menanganipersoalan dan permasalahan bangsa. Tidak ingin bangsa ini menjadi bangsa kuli.Tidak ingin bangsa ini semakin terpuruk dalam nilai-nilai moral yang berakibat rusakmoral masyarakat, rusak jiwa sosial masyarakat, dan rusak sendi-sendi tatananbangsa.

Wajar jika kita merasakhawatir meninggalkan generasi yang lemah. Baik lemah moral, mental, maupunfinansial. Semua kelemahan itu berakar dari kegagalan pendidikan karakter.Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam surat an-Nisa ayat 9: “Orang-oranghendaklah takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, andai sesudah wafatnyameninggalkan generasi yang lemah, yang mereka khawatirkan nasib mereka akanterlunta-lunta. Karena itu hendaklah mereka takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aladan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut.

“Kekhawatiran itu menjadi salahsatu bentuk kewajaran ketika melihat fenomena yang saat ini. Untuk itulah,sandaran yang kuat adalah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (hablun-minaAllah), yaitu dengan iman danamal saleh dan meyakini akan hal tersebut. Selain itu, juga hubungan manusiadengan sesama manusia (hablun-minannas),terutama dalam bagaimana cara untuk membangun sebuah komunikasi yang baikdengan sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Generasi masa kini lebihbanyak yang suka menggunakan bahasa dan budaya asing dalam kehidupansehari-hari daripada menggunakan bahasa dan budaya negeri sendiri, sehinggaakan mengakibatkan hilangnya budaya tersebut dan terdapat kemungkinan untukdiakui oleh negara lain.

Seperti yang pada saat ini terjadi, budaya Indonesiasemacam reog ponorogo, kuda lumping, dan lagu rasa sayange diakui oleh negaraMalaysia. Ini menjadi sebuah permasalahan yang besar, bahwa budaya-budayatersebut sudah diakui oleh negara lain dan kita hanya bisa diam saja melihathal tersebut.Krisis dan degradasi moralitasmasih menjadi persoalan serius bangsa ini.

Berbagai berita, baik yang dirilis darimedia cetak maupun elektronik, menunjukkan semakin merosotnya moralitas anakbangsa. Sebagai contoh maraknya perkelahian atau tawuran antarsiswa, maupunantarmahasiswa, seperti sudah membudaya, dan intensitasnya cukup tinggi. Arusinformasi dan teknologi memiliki dampak kuat dalam mempengaruhi persoalantergantung bagaimana cara menyikapi hal tersebut. Teknologi bagaikan mata pisaujika dimanfaatkan dengan baik akan mempercepat sebuah pekerjaan, akan tetapijika disalahgunakan berakibat buruk terhadap diri sendiri dan orang lain.

Budaya dan tradisi yang adadalam masyarakat Jawa memberikan berbagai inspirasi untuk mengembalikan jatidiri  sebuah bangsa yang sementara initercabut dari akarnya dan lupa akan karakter dari bangsa sendiri. Pepatah danpetuah Jawa yang penuh akan nilai-nilai filosofis, bisa dijadikan sebuah acuan bagaimanacara menghaluskan budi pekerti dan mencerdaskan nalar atau daya pikir dari anakbangsa. Kehalusan dan kecerdasan dari akal pikir akan membawa Indonesia menujumasyarakat yang madani. Masyarakat yang dapat menghargai antara hak dankewajiban selama bersosialisasi, masyarakat yang bisa menempatkan segalapersoalan pada porsi dan proporsinya.

Datangnya era globalisasi,ternyata dibarengi dengan budaya global, hedonis dan kapitalis, yang lambat laun menggeser budaya asli(khususnya budaya Jawa). Generasi muda yang sebelumnya belum memahami budayaaslinya, begitu mudah mengikuti budaya baru yang berasal dari negara lain.Padahal, kebudayaan ini sangat bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesiayang masih sangat menjunjung tinggi adat, budaya ketimuran dan rasakekeluargaan untuk mencapai sebuah persatuan bangsa.

Contohnya seperti, k-pop dance, gaya pakaian yangberlebih-lebihan, potongan rambut yang tidak sesuai, dan sebagainya. Haltersebut akan mengakibatkan keguncangan budaya, ketidaksesuaian dengan norma sosial,hilangnya identitas suatu bangsa.Sayangnya, cara menyikapi adanya proses globalisasisalah, seharusnya diantisipasi dengan arif dan cermat. Oleh karena rasa takutdan cemas yang berlebihan, antisipasi yang dilakukan cenderung bersifatdefensif.

Didalam era yang gencar-gencarnya proses globalisasi, bangsaIndonesia mau tidak mau harus ikut serta berperan aktif, baik di bidangpolitik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Maka dari itu, semua produk yangada akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi berdasarkan zaman yang semakin maju, termasukkebudayaan dan bahasa. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa salah satu masalahyang menimbulkan terpinggirkan dan bahkan punahnya bahasa daerah adalahpandangan negatif terhadap pengguna bahasa daerah.Banyak persepsi atau pandangan masyarakat bahwa dalampenggunaan bahasa daerah kebanyakan dianggap kuno, bahasa orang miskin, bahasaorang yang tidak berpendidikan, dan bahasa yang sudah ketinggalan zaman,sehingga dengan adanya pandangan tersebut dapat menghalangi bagaimana sebuahbahasa dan budaya daerah akan dapat dilakukan pelestarian dan pengembangannyakepada generasi penerus bangsa.

Berdasarkanfenomena tersebut, maka perlu dilakukan usaha mencegah pengaruh budayaglobalisasi tersebut dengan penggalian kembali nilai-nilai luhur budaya asliyang selanjutnya disosialisasikan kepada generasi muda. Maka, perlu dilakukankembali rasionalisasi kearifan lokal budaya Indonesia sehingga generasi mudamemahami dan terdorong untuk menjalankannya.  II.

PEMBAHASANManusia dalam menjalanikehidupannya, dikelilingi oleh beraneka ragam kebudayaan yang terdapat padasuatu bangsa. Manusia sebagai makhluk sosial harus berperan aktif dalam prosessosialisasi pada masyarakat dan lingkungan sekitar, baik lingkungan non fisikmaupun fisik. Proses pembentukan kebudayaan sudah berlangsung berabad-abadsehingga akan menghasilkan sebuah komponen yang handal dalam sebuah jati diridalam diri manusia.Jati diri merupakan salah satubentuk kearifan lokal (local wisdom)yang merupakan hasil dari local geniusdari berbagai suku yang terdapat pada sebuah bangsa. Kearifan lokal seharusnyadicapai dalam satu kesatuan kebudayaan (culture)untuk mewujudkan suatu bangsa yang arif akan kebudayaannya sendiri.

Kebiasaanyang sudah tertanam dari diri manusia sejak lahir akan diteruskan dari generasikegenerasi selanjutnya.Budaya dalam hal ini disebutkebudayaan sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Dalam pergantian masatransisi kebudayaan antar generasi kegenerasi selanjutnya, perlu adanyagenerasi penghubung yang sudah paham akan permasalahan dan persoalan yang adadan mampu mengkomunikasikannya kedalam bentuk bahasa yang ringan dan mudah dipahamioleh generasi selanjutnya.A.    PengaruhGlobalisasi dan ModernisasiDengan adanya arus globalisasiyang semakin deras, dan modernisasi dikhawatirkan dapat mengakibatkanterkikisnya rasa kecintaan dan bangga terhadap kebudayaan lokal bangsa sendiri.Sehingga kebudayaan lokal yang terdapat pada suatu bangsa, lama-lama akantergerus akan masuknya globalisasi kebarat-baratan, sehingga generasi pada masakini budaya tersebut akan terinjak-injak, kalah saing, dan akan dilupakan olehpemudanya sendiri.

Generasi pemuda masa kini akanmenjadi lebih bangga dengan budaya kebarat-baratan tersebut yang dianggapnyasebagai budaya yang kekinian dibandingkan dengan kebudayaan lokal didaerahnyasendiri yang dianggap sebagai budaya yang kuno. Slogan “aku cinta produk lokal,aku cinta buatan Indonesia” sepertinya hanya menjadi ucapan belaka, tanpa adaaplikasi nyata yang mendukung pernyataan tersebut. Berbagai bentuk carapenyampaian bahasa dan budaya asing melalui media cetak maupun elektronik dapatmenyebabkan lunturnya nilai-nilai pada budaya lokal perlahan-lahan akantergerus dan memudar akan datangnya pengaruh tersebut.

Bahasa sebagai mediapenyampaian tutur kata atau komunikasi merupakan bentuk penyampaian pendidikankarakter yang akan dibentuk kepada generasi masa kini. Modernisasi mengikis budaya lokal menjadikebarat-baratan. Budaya lokal harus selalu dipertahankan untuk memperkuatkarakter anak bangsa. Cara untuk menjadikan budaya lokal tetap eksis kepadagenerasi pejuang dan pelurus bangsa bisa diterapkan dikehidupan sekolah, dengancara mengintegrasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai kearifan lokal padamasing-masing bahasa dan daerah yang ada melalui berbagai bentuk kegiatanseperti, proses pembelajaran dalam maupun luar kelas, ekstrakulikuler, dankegiatan kesiswaan yang lain. Misalnya dengan cara mengaplikasikan secaraoptimal pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal.B.     ImplementasiPendidikan Karakter dan Pembelajaran MoralPendidikan karakter merupakansebuah Pendidikan yang akan diterapkan kewarga dan lingkungan sekolah yangterdiri dari berbagai elemen atau komponen yang terdapat pada suatu sekolah,dengan bentuk kesadaran dan kemauan terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Stakeholder dalam dunia Pendidikan harusdilibatkan dalam proses ini seperti isi dalam kurikulum yang digunakan, prosespenilaian pada pembelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan berbagaiaktivitas dalam kegiatan ekstrakulikuler, pemberdayaan sarana dan prasaranayang terdapat di sekolah, dan sebagainya.Istilah revolusi mental,mulanya kurang diperhatikan orang. Di Indonesia, Presiden Soekarno pernahmempergunakan istilah itu dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan RepublikIndonesia (HUT RI) pada 17 Agustus 1956. Namun, istilah revolusi mental menjadidemikian terkenal, ketika diusung oleh calon presiden yang kemudian terpilihmenjadi presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam pemilihan presiden tahun 2014lalu.

Terkait revolusi mental ini,memang banyak tafsir dan pendapat. Namun, menurut Jokowi (2014), revolusimental yang dimaksudnya adalah bagaimana upaya mengembalikan bangsa Indonesiapada karakter orisinalnya. Jokowi mengutarakan sebuah pendapat bahwa, “Indonesiamerupakan bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, danbergotong-royong. Mestinya, karakter-karakter luhur inilah yang menjadi sebuahmodal dan dapat membuat rakyat menjadi lebih sejahtera. Sayangnya, karakterorisional itu tanpa disadari telah tergerus dengan seiring berjalannya waktu tanpaada upaya menghentikannya.

“Karakter merupakan nilai-nilaiyang terkandung dan melekat pada diri manusia sejak dia lahir yang berhubungandengan Tuhan Yang Maha Esa, pada sesama, lingkungan sekitar, dan terhadap suatubangsa. Bentuk penyampaiannya dalam bentuk perasaan, perkataan, pemikiran,sikap, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, sosial, adat istiadat, dantata karma.Karakter merupakan bentukwujud pernyataan yang representatif pada diri manusia, yang dengan tujuan untukmerefleksikan diri sendiri dalam perasaan, perkataan, pemikiran, sikap, danperbuatan pada orang lain.Tak perlu keluar untuk mencaridasar kurikulum, karena bangsa ini kaya akan kearifan dan kebijaksanaan.Proklamator Soekarno mengakui itu. Soekarno bahkan mengaku tak membuatPancasila, tetapi beliau hanya meramu dan merangkung aneka kearifan warisanleluhur, menjadi satu kesatuan falsafah hidup yang hierarkis sistematis bernamaPancasila. Bapak bangsa, Soekarno, sudah jauh hari memberi contoh bahwastrategi kebudayaan bangsa ini harus berasal dari jati dirinya sendiri. Bukanmeniru ambil jadi, bahkan menjiplak budaya bangsa lain.

Para pemangku kebijakanPendidikan, tidak salah mempergunakan ilmu dan metode dari luar (Barat). Hanyasaja, ilmu itu tidak ditelan mentah-mentah. Lantas tanpa adaptasi digunakansebagai dasar penyusunan kurikulum pendidikan bangsa. Ilmu itu mestinya sebagaialat saja, sementara bahan-bahan berasal dari bangsa sendiri.Kini pun, bangsa kita latahdengan model pendidikan karakter ala-Barat.

Kita lupa bahwa kearifan lokalbangsa ini mengandung banyak nilai luhur, yang tepat dan pas untuk membangunkarakter anak didik di sekolah. Tak perlu jauh-jauh, disekitar merekanilai-nilai karakter itu sudah ada. Orang Jawa, sudah punya standar “njawani” atas penguasaan etika dan tatakarma luhur. Mereka yang sudah “njawani” dianggaptelah berkarakter dan memiliki budi pekerti yang luhur. Saya kira didaerah-daerah lain juga punya standar karakter yang sesuai dengan kekhasan dankearifan lokal masing-masing suku bangsa.Membangun karakter pemuda padalingkungan sekolah dianggap merupakan cara yang paling efektif danamemperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal dalam segi bahasa dan budaya kepadasiswa.

Sekolah merupakan lembaga formal yang menjadi peletak dasar penyampaianilmu pengetahuan kepada siswa. Pendidikan di sekolah merupakan bagian pentingdalam tujuan Pendidikan nasional, yaitu mencetak sumber daya manusia yangunggul. Diharapkan dalam penyampaian ilmu pengetahuan di sekolah tidak hanyamendapat kognitif saja, tetapi afektif dan psikomotorik pada siswa.Pada praktiknya, matapelajaran muatan lokal dipandang sebagai pelajaran kelas nomor dua dan hanyadianggap sebagai pelengkap. Contoh penerapan dalam skala kecil misalnyapengenalan bahasa dan budaya-budaya lokal dengan mengadakan berbagai kegiatanyang dikaitkan dengan lingkungan sekitar pada masyarakat dengan mengenalkanpermainan tradisional kepada siswa.  Gobak sodor, misalnya sebagai permainantradisional, gobak sodor dapat membawa banyak manfaat dan perlu dilestarikankarena mengandung nilai sejarah, dapat dijadikan simbol atau maskot daerah,dijadikan cabang olahraga yang dapat diukur dengan skor dan prestasi yangmengandung unsur kekompakan tim, dan kejujuran.

C.    UpayaMengatasi PermasalahanBahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalamkegiatan manusia, seperti bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan,ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangankebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga ikut berkembang.

Luaswilayah yang menggunakan bahasa Indonesia tersebar di pulau-pulau yang secarageografis terpisahkan oleh laut sehingga memungkinkan terjadinya perubahan-perubahanpada tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya yang terstrukturdalam pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Terdapat bahasayang masih sering digunakan oleh penggunanya dalam semua golongan usia dan digunakandalam berbagai bentuk komunikasi keorang lain. Seminar Politik Bahasa Nasional (1999) disebutkanbahwa yang dimaksud pembinaan adalah upaya yang sistematis untuk meningkatkanmutu dalam pemakaian bahasa. Usaha-usaha pembinaan ini mencakup bagaimana cara upayapeningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam berbahasa. Usahapembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengenalan, pengajaran danpemasyarakatan bahasa kepada masyarakat.

Sedangkan, yang dimaksud denganpengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa dengan tujuan dapat dipakaiuntuk berbagai keperluan dalam kehidupan masyarakat. Upaya pengembangan itu, antara lain, meliputipenelitian, pembakuan, dan pemeliharaan. Usaha pembinaan melalui pengajaranbahasa Indonesia dilakukan dengan mempertimbangkan bahasa sebagai satu aspekkeseluruhan berdasarkan konteks pemakaian yang ditujukan untuk peningkatan mutupenguasaan dan pemakaian bahasa yang baik dan benar dengan cara tidakmengabaikan adanya berbagai perbedaan ragam bahasa Indonesia yang terdapat dalammasyarakat. Peningkatan mutu pendidikan bahasa itu dilakukanmelalui kegiatan sebagai berikut: 1) pengembangan kurikulum bahasa Indonesia;2) pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembanganmetodologi pengajaran bahasa; 3) pengembangan tenaga kependidikan kebahasaanyang profesional; dan 4) pengembangan sarana pendidikan bahasa yang memadai,terutama sarana uji kemahiran bahasa.

Usaha pembinaan dapat pula dilakukan melaluipemasyarakatan bahasa Indonesia. Pemasyarakatan bahasa Indonesia inidimaksudkan untuk meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasaIndonesia dan meningkatkan mutu penggunaannya. Pemasyarakatan bahasa Indonesiajuga harus dapat menjangkau berbagai kelompok dan elemen masyarakat yang belumbisa berbahasa Indonesia sama sekali agar dapat turut serta berperan lebihaktif dalam upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih maju. Pemasyarakatan bahasa Indonesia ke seluruh lapisan masyarakatitu diarahkan pada upaya memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Pengembanganbahasa dilakukan dengan melakukan penelitian dalam berbagai aspek bahasaIndonesia.

Penelitian itu dilakukan baik pada tataran gramatikal maupun padatataran yang lain. Penelitian ini diharapkan akan meningkatkan mutu bahasaIndonesia. Selain penelitian aspek bahasa Indonesia, juga dilakukan penelitiandi bidang pemakaian bahasa Indonesia. Penelitian ini diharapkan akanmeningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia.Penggunaan Bahasa lokal dipandang perlu diaplikasikanpaling tidak satu hari dalam enam hari proses pembelajaran di sekolah.

Disamping itu, diharapkan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler berbasis kebudayaanlokal mulai diadakan di sekolah-sekolah. Selain dengan penelitian, pengembanganbahasa Indonesia dilakukan dalam hal pembakuan bahasa Indonesia. Pembakuan inidilakukan dengan memperhatikan berbagai asas demokrasi dan keragaman yangdimiliki oleh bahasa Indonesia serta dapat diarahkan untuk menciptakan komunikasiyang lebih luas, efektif dan efisien.  Usaha lain pengembangan bahasa dilakukan denganpelestarian bahasa itu sendiri.

Pelestarian bahasa Indonesia diarahkan untukmeningkatkan kemampuan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi modern yangterbuka dan dinamis. Pelestarian itu dilakukan berdasarkan perkembangansosiokultural dan konteks sosial, ekonomi, budaya, dan politik bangsaIndonesia.Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besardalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral.

Tugas-tugas manusiawi itu merupakan transformasi, identifikasi, dan pengertiantentang diri sendiri, yang harus dilaksanakan secara bersama dalam kesatuanorganis, harmonis, dan dinamis, lebih besar dalam konteks negara dan bangsa.Sebagai upaya dalam menyiapkan penerus bangsa adalahmemberikan pendidikan karakter disemua tingkatan baik dilingkungan pendidikan,masyarakat dan keluarga. Sehingga diharapkan kelak muncul penerus bangsa yang mempunyaisemangat dan bisa membangun hingga mempersatukan NKRI. III.PENUTUPPendidikan karakter terjadipada kebiasaan apa saja yang dilakukan seseorang baik dalam perkataan danperbuatan yang digunakan pada kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bersosial .Tentunya melalui keteladanan, pesan mulia, dan pendampingan.

Pendidikan karaktermerupakan proses penghayatan terhadap nilai-nilai kelayakan yang dikawal dalam kebiasaan hingga melahirkankepribadian yang mulia. Nilai-nilai kelayakan yang dijadikan teladan adalahdari sifat-sifat mulia yang terdapat pada diri Rasulullah, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.Tujuan Pendidikan karakterpada tingkat institusi terutama lingkungan sekolah lebih mengarah padapembentukan budaya sekolah yang dapat dijadikan sebuah kebiasaan pada siswa,yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan dalam kehidupan keseharian,dan berbagai bentuk simbol-simbol yang dipraktikan oleh semua warga sekolah danmasyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah bisa dikatakan sebagai cerminan darisebuah ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut pada masyarakatluas.Jika pendidikan karakter iniberjalan sesuai dengan aturan, maka tujuan tersebut akan tercapai, bahkanfungsi pendidikan karakter akan lebih bermakna dalam membangun masyarakat yangmampu mengembangkan aset pemberian Allah SWT. Dengan aset raga yang sehat,manusia bisa bekerja keras. Dengan asset pikiran, manusia bisa bekerja dengancerdas.

Dengan asset hati, manusia bisa bekerja dengan ikhlas dan mampumembangun hubungan kepatuhan dengan Sang Khalik. Begitu juga dengan sesamamanusia, akan terjalin hubungan yang harmonis. Saling asah, asih, dan asuh.Inilah harapan dari pendidikan karakter.

Sudah saatnyastrategi kebudayaan yang menjadi dasar penyusunan kurikulum pendidikan digalidari budaya bangsa, terutama kearifan lokal setiap suku bangsa. Ini akanmenjadikan anak didik tidak terasing, serta menyadari potensi diri danbangsanya. Mereka akan merasa memiliki banyak sahabat dari latar belakangadat-istiadat, suku, bahasa, budaya bahkan agama yang berbeda.

Mereka akanmemaknai keanekaragaman itu sebagai kekayaan yang luar biasa, yang patutdilestarikan dan disesalkan ketiadaanya. Pada akhirnya, anak didik akan merasabangga sebagai bangsa Indonesia, yang kaya akan keanekaragaman budaya,adat-istiadat, suku, bangsa bahkan agama. Berangkat dari pandangan demikian,nasionalisme anak didik akan terpuruk. Tanpa melestarikan dan menjaga akan bahasadan kearifan lokal, diibaratkan sebagai layang-layang yang putus talinya hinggatidak ada arah yang pasti.            Sebagai warganegara yang baik suatu keharusan dalam menjaga keutuhan negara-bangsa (nationstate) Indonesia. Secara landasan konstitusional kita memiliki landasanyang kuat bagi integrasi nasional yaitu Ideologi Pancasila. Manusia  merupakan faktor strategis, yaitu kajiandifokuskan pada esensi manusia Indonesia memahami tentang pemahaman kebangsaandalam zaman yang berubah sangat cepat. Dalam berbagai kajian ilmu antropologi dan sosiologi,maka dapat digambarkan sisi yang menonjol pada kehidupan berbangsa danbernedara pada negara Indonesia adalah keterkaitannya  kesatuan masyarakatnya yang sangat kuat (Atmadja,2004).

Sehubungan dengan hal itu maka perlu dipahami bahwa kuatnya kebersamaandalam persamaan kebangsaan tumbuh karena (1) persamaan nasib pada masa lampau,(2) persamaan kepentingan masa kini, (3) persamaan aspirasi kemasa yang akandatang. Hasrat yang kuat akan kebersamaan kini memerlukan perawatan yangsekasama.   DAFTARPUSTAKAAsri Budi Permata Dyah.

Model Kebijakan Strategis Terhadap Pelestarian KebudayaanLokal”Merti Code”Sebagai Aset Daerah Untuk Meningkatkan Sektor Pariwisata BerbasisBudaya. Yogyakarta: JurnalPenelitian Vol. 10 Budiningsih Asri. 2008. Pembelajaran Moral Berpijak Pada Karakteristik Siswa Dan Budayanya.

Jakarta : Rineka CiptaHidayatullah Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta : YumaPustakaMardikantoro Bakti Hari. 2017. PemertahananBahasa Jawa Dalam Kontak Bahasa Pada Masyarakat Dwibahasawan: Kajian TuturanPengemis Di Kota Semarang.

Semarang: JurnalTUTUR, Vol. 3 No. 1.

Pebruari 2017 Sulhan Najib. 2011. Pengembangan Karakter dan Budaya Bangsa. Surabaya : Temprina MediaGrafikaWibowo Agus, Gunawan. 2015.

Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar    

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out