PENDAHULUAN

Pendidikan agama Islam merupakan langkah untuk menyiapkan peserta
didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui
kegiatan, bimbingan, pengajaran, maupun latihan dengan memperhatikan tuntutan
untuk menghormati agama lain dan hubungan antar umat beragama dalam masyarakat
untuk mewujudkan persatuan nasional. Pendidikan agama di sekolah memiliki
maksud untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Uraian dari fungsi pendidikan
agama yang tercantum dalam permendiknas menjadi bukti bahwa pendidikan agama
Islam sangat penting untuk dilakukan dan dikembangkan demi terciptanya manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan
agama Islam yang diharapkan mampu meningkatkan moral sekaligus meningkatkan
mutu pendidikan nasional, nampaknya belum sepenuhnya tercapai. Dalam
pelaksanaannya, pendidikan agama Islam belum mampu membentuk kepribadian yang
baik kepada peserta didik.

Degradasi moral pun kian marak. Bahkan, pelajar tingkat sekolah
dasar (SD) telah ternodai dengan adanya kasus tawuran, pelecehan seksual, dan
lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam
belum mampu menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik. Siswa SD
yang seharusnya diarahkan kepada pembentukan karakter yang baik justru ternodai
dengan tindakan-tindakan kriminal tersebut. Demi tercapainya tujuan pendidikan
nasional pada umumnya, dan tujuan pendidikan agama Islam pada khususnya, maka
penanaman nilai-nilai agama Islam harus dilaksanakan sejak dini. Internalisasi
nilai-nilai agama Islam yang berlangsung sejak dini diharapkan mampu membentuk
karakter religius anak sehingga mengakar kuat pada dirinya. Oleh karena itu,
pendidikan agama Islam tidak hanya dimaksimalkan pada pendidikan di sekolah
saja, tetapi juga harus dimaksimalkan pada pendidikan sebelumnya, atau
pendidikan pra sekolah.

Pendidikan
agama Islam yang diterapkan pada anak usia dini atau pendidikan pra sekolah
dimaksudkan agar anak mendapatkan dasar-dasar akhlak Islami. Dasar-dasar ini
merupakan modal utama dalam membentuk karakter religius anak tersebut. Karakter
religius inilah yang nantinya mampu mengontrol pola perilaku peserta didik
sehingga terbentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT

Pelaksanaan
pendidikan agama Islam akan berjalan dengan efektif dan efisien apabila dalam
pembelajarannya menggunakan strategi yang tepat. Usia anak di taman kanak-kanak
yang memiliki imajinasi tinggi menjadikan strategi storytelling dalam pembelajaran
pendidikan agama Islam patut dipertimbangkan.Strategi storytelling di
taman kanak-kanak mampu meningkatkan kecerdasan otak peserta didik. Hal ini
dikarenakan metode bercerita merupakan media pembelajaran bahasa yang sangat
kaya kosakata bagi anak. Struktur kalimat dalam dongeng jauh lebih kompleks
dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang lain.Pengetahuan tentang nilai-nilai
ajaran Islam yang banyak ditangkap oleh peserta didik menjadi dasar yang kuat
dalam menciptakan karakter religius anak tersebut.Dengan demikian, penggunaan
strategi stroytelling di taman kanak-kanak menjadi strategi yang efektif
dalam membentuk karakter religius peserta didik. Strategi storytelling, atau strategi
bercerita (mendongeng) mampu membawa anak untuk berimajinasi dan berfantasi
terhadap cerita yang dibawakannya sehingga anak mampu mengkreasikan sesuatu
berdasarkan khayalan mereka. Oleh karena itu penulis ingin membahas tentang
Penerapan Strategi Storytelling Dalam Membentuk Karakter Religius Siswa
Tk Al Kautsar

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data
dilakukan dengan mengadakan, pengamatan/ observasi dan wawancara yang mendalam.
Analisis data dilakukan dengan wawancara dengan orang tua dan guru selaku
pembimbing.

 

 

PEMBAHASAN

 

Pendidikan
taman kanak-kanak pada hakikatnya merupakan pendidikan yang diselenggarakan
dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara
menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak.
Pendidikan taman kanak-kanak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan kepribadiannya. Oleh karena itu, pendidikan pada jenjang ini
harus memuat aspek perkembangan kognitif, bahasa, sosial, emosi, fisik, dan
motorik.

Menurut
Al-Qur’an, manusia (termasuk anak) merupakan makhluk spiritual. Ia mempunyai
peranan yang pasti di panggung kehidupan ini. Aktivitas mereka diatur oleh
prinsip dasar tertentu yang jika dilanggar akan menjadi orang jahat, dan jika
dipatuhi akan menjadi orang baik.Dari keadaan yang demikian, manusia sering
disebut sebagai homo religius dan dengan adanya fitrah beragama, ia juga
memerlukan pemenuhan kebutuhan rasa agama. Uraian di atas menunjukkan bahwa
pembentukan karakter religius pada anak usia taman kanak-kanak sangat penting.
Pembentukan karakter religius ini tidak akan lepas dari pelaksanaan
pembelajaran pendidikan agama Islam

Dari hasil yang sudah didapat peneliti di sekolah,
perilaku anak sebelum menggunakan metode storytelling diketahui masih
rendah. Hal diketahui dari tingkah laku anak seperti pada saat belajar anak
tidak mau mendengarkan penjelasan dari guru dan anak tidak mau mengikuti aturan.
Contoh kasus satu : Guru
melakukan cerita tentang bagaimana cara wudhu yang benar, dalam cerita tersebut
ada beberapa anak yang tidak memperhatikan, Sedangkan anak yang lain pada
memperhatikan dan ketika praktek anak-anak tersebut tidak bisa melakukan wudhu
dengan benar. Contoh kasus dua : guru mengulang cerita dengan menggunakan
gambar, dan pada kasus dua ini anak-anak bisa fokus mendengarkan cerita guru
tentang tata cara wudhu, dan hasil yang didapat banyak siswa yang bisa
melakukan wudhu ketika praktek. Dari hasil
penerapan storytelling dalam membentuk karakter siswa bisa dilihat dari
perubahan perilaku siswa sehari-hari terlalu lama dan diulang-ulang. Penerapan
karakter religius pada anak harus dilakukan sejak dini dengan melalui
storytelling dan pembiasaan, sehingga terbentuklah suatu karakter religius
seperti pembiasaan mengucapkaan salam, mengerjakan sholat dengan benar, wudhu,
berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan/pekerjaan dan sebagainya.
Pembiasaan dan ketauladanan serta peringatan-peringatan yang mengarahkan dalam
kebaikan maka akan membekas kepada anak dan terbentuklah karakter religiusnya

Faktor utama yang mendukung keberhasilan storytelling dalam
membentuk karakter religius siswa adalah cerita yang diulang-ulang, adanya
kerjasama dengan orangtua dan guru,adanya keteladanan pada anak .Sementara
faktor penghambat keberhasilan storytelling adalah alat peraga yang
kurang menarik, tempat yang kurang memadai untuk bercerita, suara yang kurang
variatif.

Dengan
menggunakan penerapan metode storytelling tingkat keberhasilan dalam merubah
perilaku akhlak lebih mudah karena dalam cerita ada contoh yang dapat dijadikan
tauladan. Penerapan metode storytelling dapat merubah karakter anak menadi
lebih baik, sehingga dalam pembelajaran storytelling sangat perlu untuk
memberikan perubahan dalam proses pembelajaran

 

 

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan tentang penerapan
storytelling dalam membentuk karakter religious siswa di TK Al- Kautsar.
Kegiatan belajar dengan menggunakan storytelling dalam pembelajaran
dapat membentuk karakter religious dalam diri siswa, TK Al-Kautsar. Storytelling
dilakukan selama proses belajar mengajar, baik sebelum ataupun sesudah
pembelajaran. Agar dapat terbentuk pembiasaaan-pembiasaan karakter religius
pada anak. Dari hasil penerapan storytelling dalam membentuk karakter
siswa bisa dilihat dari perubahan perilaku siswa sehari-hari terlalu lama dan
diulang-ulang. Penerapan karakter religius pada anak harus dilakukan sejak dini
dengan melalui storytelling dan pembiasaan, sehingga terbentuklah suatu
karakter religius seperti pembiasaan mengucapkaan salam, mengerjakan sholat
dengan benar, wudhu, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan/pekerjaan
dan sebagainya. Pembiasaan dan ketauladanan serta peringatan-peringatan yang
mengarahkan dalam kebaikan maka akan membekas kepada anak dan terbentuklah
karakter religiusnya. Hasil yang dicapai dari storytelling dalam pembentukkan
karakter religius adalah dengan adanya perubahan pada anak yang tadinya tindak
mau dan tidak bisa menjadi bisa dan mau, bahka sudah tertanam pada diri anak
dan menjadi suatu kebiasaan, seperti dengan sholat tanpa disuruh anak sudah
tahu dan mengerjakannya, dengan terbiasa mengucapkan salam tanpa disuruh dia
ketemu teman sudah mengucapakan salam duluan, serta dengan pembiasaan berdo’a
anak sudah dengan sendirinya berdo’a ketika mau mengerjakan sesuatu tanpa
disuruh, karena itu sudah menjadi pembiasaan. Faktor utama yang mendukung
keberhasilan storytelling dalam membentuk karakter religius siswa adalah
cerita yang diulang-ulang, adanya kerjasama dengan orangtua dan guru,adanya
keteladanan pada anak .Sementara faktor penghambat keberhasilan storytelling
adalah alat peraga yang kurang menarik, tempat yang kurang memadai untuk
bercerita, suara yang kurang variatif

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out