Kontra Terhadap KebijakanKantong Plastik Berbayar I.      Pendahuluan1.1.  LatarBelakangDi zaman modern saat ini,, plastik merupakan barangyang tak pernah lepas dari kehidupan kita.     Menginat pertumbuhan penduduk yang semakinpesat, menjadikan aktivitas ekonomi juga semakin tinggi. Meningkatnya aktivitasekonomi secara langsung juga meningkatkan produksi sampah yang sebagian besarmerupakan plastik.

Setelah menjadi sampah, plastik sudah lagi tak berguna untuksebagian orang. Sampah plastik juga tidak mudah hancur, butuh puluhan bahkanratusan tahun agar bisa terurai. Peningkatan gas rumah kaca juga akan terjadijika sampah plastik terus bertambah. Hal tersebut dapat meningkatkan perubahaniklim yang tentunya berakibat pada rusaknya bumi kita.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Lalu, dengan banyaknyapopulasi makhluk hidup di bumi ini khususnya Indonesia, apa yang harusdilakukan agar bumi kita tetap terjaga?1.2.  Tujuan1.      Mengurangiemisi GRK2.

      Membuatkebijakan khusus untuk pengolahan sampah plastik3.      Menerapkankebijakan kantong plastik berbayar1.3.  PertanyaanLalu, apakah kebijakan kantongplastik tersebut efektif dan terlaksana sebagaimana mestinya?II.      IsiMasalahsampah, terutama sampah plastik masih menjadi masalah yang tidak pernah lepasdalam kehidupan kita. Masalah ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitupemanasan global. Untuk itu, pemerintah menyusun kebijakan mengenai lingkungan.Salah satu yang saat ini menjadi perbincangan adalah kebijakan kantong plastikbelanja berbayar.

Dengan adanya kebijakan ini, KLHK mengklaim bahwa kita dapatmereduksi sampah kantong plastik sebesar 55% (Kementrian Lingkungan Hidup danKehutanan, 2016). Untuk itu KLHK mengeluarkan surat edaran kantong plastikberbayar seharga Rp 200. Setelah dilakukan uji coba, jumlah sampah plastikjenis ini memang berkurang. Namun ternyata kebijakan ini tidak berlangsung lamakarena KLHK mengeluarkan surat edaran kedua yang memutuskan bahwa mekanisme inidiserahkan kepada pemda, hal ini membuat bingung banyak pihak. Pertama, karenanantinya tiap daerah akan memiliki peraturan yang berbeda yang menjadikan kitatidak mencapai tujuan kita. Kedua, pada akhirnya peritel pun menggratiskankembali kantong plastik untuk belanja (Roy N Mandey,2016).Sayamemilih kontra terhadap kebijakan ini karena menurut saya, kebijakan ini akan cukup baik jika terlaksana dengan baikpula. Maka tujuan pemerintah untuk mengurangi GRK (Gas Rumah Kaca) terhadappemanasan global akan terwujudkan jika didukung dengan peran serta masyarkatdan kematangan mengenai kebijakan tersebut.

Nyatanya, pengurangan sampah jenisini hanya beberapa persen. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat Indonesia yangmasih menyepelekan nilai Rp 200. Berbeda dengan negara di Eropa, Jerman salahsatunya. Mereka menetapkan kantong belanja berbayar dengan sangat efektifkarena harga yang ditetapkan juga cukup mahal (Pangketanam, 2017) .

Lalu baliklagi perilaku atau istilah yang menunjukan “di Indonesia yang mahal aja banyak yang beli, apalagi yang murah”sangat jelas membuat kebijakan ini kurang efektif. Seharusnya,masalah kantong plastik ini diatasi sejak awal produksi dengan menggunakanbarang yang ramah lingkungan (bio-degradable)(Aryo Hanggono, 2017). Karena dengan menetapkan kebijakan tanpa melakukanpencegahan diawal, produksi plastik akan terus meningkat. Jadi, dengan kantongplastik yang ramah lingkungan inipun akhirnya menjadi tinggi nilainya. Makajika masyarakat menggunakan kantong plastik ini sekalipun dampak pada pemanasanglobal akan berkurang.

Naiknya nilai kantong plastik belanja ini juga membuatmasyarkat benar-benar harus berfikir dua kali untuk menggunakan kantong plastikbelanja yang ramah lingkungan. Selain itu dampak baiknya juga, denganmenggunakan kantong plastik ramah lingkungan ini berkontribusi pada pembangunanberkelanjutan yang ada di Indonesia.  III.      Penutup3.1.  KesimpulanUntukmengurangi emisi gas rumah kaca pemerintah telah melakukan berbagai upayadengan membuat taman kota dan membuat undang undang atau kebijakan tentanglingkungan (UUNo.18 Tahun 2008), salah satu kebijakannya adalahkantong plastik berbayar seharga Rp 200 yang disosialisasikan melalui suratedaran kepada seluruh Pemda.

Namun pada praktiknya, kebijakan ini tidakberjalan efektif karena perilaku konsumtif di Indonesia masih cukup tinggisehingga nilai Rp 200 masih dikatakan murah. Juga dikarenakan KLHK yang kurangmatang dan konsisten dalam menyebarkan surat edaran.3.2.

  SaranSaransaya terhadap kebijakan ini adalah pengkajian yang lebih mendalam dan meluasmelihat dari kondisi ekonomi dan perilaku masyarakat di Indonesia.3.3.

  SolusiMenurutsaya, yang harus dilakukan adalah perubahan material atau bahan pembentukplastik menjadi yang ramah lingkungan. Jadi, dilakukan perubahan dari awalpembuatan plastik atau dari pabriknya itu sendiri. Maka dengan begitu efek GRKyang ditimbulkan lebih sedikit.

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out