Adanya penemuan dan
pengembangan teknologi pemisahan atom menjadi nuklir dapat menjadi sumber
inspirasi sekaligus kekhawatiran, karena adanya penemuan teknologi nuklir di satu
sisi dapat memberikan solusi ke sejumlah negara untuk dijadikan sumber energi,
namun disisi lain juga nuklir dapat digunakan menjadi senjata yang sangat
mematikan. Pada mulanya, usaha-usaha penelitian untuk penerapan energi nuklir
yang dasarnya mempunyai tujuan damai telah membawa ke dalam bidang teknologi
reaktor nuklir sebagai tenaga listrik. Rezim international Non-Proliferation
Treaty (NPT) mempunyai peran penting dalam teknologi nuklir, hal ini guna
mencegah adanya ancaman penyimpangan juga penyalahgunaan material nuklir karena
hal tersebut dapat meningkatkan risiko konflik di kawasan, karena dapat
menyebabkan semakin banyaknya negara yang ingin memiliki senjata nuklir.
Semakin banyak negara yang memiliki nuklir maka semakin besar ancaman terhadap
perdamaian dunia. Proliferasi nuklir merupakan
pengembangan dan persebaran senjata-senjata nuklir (baik secara kuantitatif
maupun kualitatif) dan kemampuannya sebagai alat penghancur masal. Nuklir
menjadi sebuah fokus perhatian dalam agenda keamanan global pada saat ini,
karena kemampuan nuklir sendiri sebagai senjata pemusnah massal yang dapat
menghancurkan sebuah negara maupun seluruh penduduk bumi. Dalam Perjanjian
Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) hanya ada 5 negara yang diakui sebagai
pemilik senjata-senjata nuklir yaitu Cina, Prancis, Rusia, Inggris dan Amerika
Serikat. Namun seiring berjalanya waktu banyak negara yang diduga telah
memiliki senjata-senjata nuklir termasuk India dan Pakistan.

               India
adalah negara demokrasi terbesar di dunia dan menurut perkiraan PBB, populasinya
diperkirakan menyalip Cina pada tahun 2028 dan menjadi negara berpenduduk
paling banyak di dunia.Sebagai pusat kekuatan ekonomi dan negara bersenjata
nuklir, India telah muncul sebagai kekuatan regional yang penting.India merupakan
salah satu negara berkembang yang memiliki program nuklir karena kaya akan
sumber uranium. Jadi, tidak heran apabila India mampu menghasilkan banyak
nuklir jika dilihat dari sumber uranium yang melimpah. India mengembangkan
nuklirnya untuk dua tujuan. Pertama, untuk mendapatkan kemampuan pengembangan
senjata demi kepentingan nasional India (alasan pertahanan). Kedua untuk
mengembangkan nuklir untuk mencukupi kebutuhan energi negerinya. Terhitung pada
data tahun 2006 energi nuklir merupakan sumber energi terbesar keempat di India
setelah energi panas (thermal energy),
energy air (hydro energy), dan sumber
energi yang dapat diperbahrui (renewable
energy resources). Disisi lain Pakistan pula tidak kalah saing, negara ini
memiliki kemampuan  tercepat  dalam 
mengembangkan uranium  dan plutonium
untuk bahan  baku senjata nuklir ataupun
pembangunan  fasilitas energi nuklir yang
lebih mengarah pada kepentingan sipil. Pada tahun 2011 Pakistan memiliki  persediaan 
sekitar  2,75  ± 
1  ton weapons-grade
(90%-enriched).Pakistan sendiri memiliki sekitar 90
hingga 110 hulu ledak nuklir. Nuklir terbesar yang dimiliki Pakistan adalah jenis
F-16A / Bs Pakistan, yang memiliki jarak tempuh 1.600 km. Pakistan juga
memiliki tiga rudal balistik yang dapat dioperasikan nuklir diantaranya jarak
pendek Ghaznavi dan Shaheen dan jarak menengah Ghauri. Dan baru-baru ini
Pakistan juga mengerahkan dua rudal jelajah baru, yaitu Babur dan Ra’ad.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

 

 

            Dengan
keadaaan dua negara yang sama-sama memiliki perkembangkan nuklir, dapat
menyebabkan adanya ketidak stabilan dikawasan tersebut. Pada mulanya konflik
yang terjadi antara India dan Pakistan berawal dari kepemilikian wilayah
Kashmir, jika berdasarkan dari sejarah pada awalnya kedua negara tersebut
merupakan satu negara yang sama, namun pada masa penjajahan Inggris kedua
negara tesebut memiliki perbedaan pandangan sehingga menjadikan perpecahan.
Akhirnya Inggris memberikan kebebasan kepada Kashmir untuk memilih diantara
India maupun Pakistan namun hal tersebut membuat konflik semakin memanas, sejak
saat itu setidaknya telah terjadi empat perang yang terjadi antara India dan
Pakistan dengan berbagai faktor. Tahun pertama terjadi pada tahun 1948 tidak
lama setelah kedua negara terbebas dari Inggris, perang kedua terjadi pada
tahun 1965 dan perang ketiga terjadi pada tahun 1971. (“The Kashmiri
Conflict:Historical and Prospective Intervention Analyses, 2002) Dalam
kondisi yang tidak stabil tersebut India dan Pakistan terlibat dalam kekuatan
militer yaitu adanya persaingan pengembangan nuklir. Pengembangan senjata
nuklir di India sendiri sudah dimulai tidak terlalu lama sejak tahun 1947 dan
semakin berkembang pada tahun 1964 ketika India mengalami kekalahan perang
dengan Cina tekait perebutan wilayah perbatasan. Disisi lainnya perkembangan
nuklir di Pakistan sudah berlangsung pada tahun 1972.

Pada tahun 1974 tanggal 18 Mei atas dorongan UniSoviet,India
dimanfaatkan untuk dapat melemahkan pengaruh Cina, Uni Soviet memberikan
dukungan penuh bagi proyek nuklir India sehingga untuk pertama kalinya India
berhasil meledakkan bom nuklir. India meledakkan
perangkat nuklir di Pokhran, dalam sebuah operasi dengan kode nama
“Smiling Buddha”. Dan India juga mengatakan hal tersebut
dilakukan bukan untuk membuat negara menjadi negara agresif namun hanya sebagai
bentuk pertahanan negara dan India menyebut pada
perangkat tersebut sebagai “Peaceful
Nuclear Explosion”.  Disisi lain karena hal tersebut Pakistan
semakin mempercepat perkembangan nuklirnya yang dimulai pada tahun 1972 lalu.
Selanjutnya, pada tahun 1998 India melakukan uji coba nuklir untuk kedua
kalinya dengan program bernama Shakti 1 hingga Shakti 5. Karena hal tersebut
India dianggap hanya ingin membuat perhatian terhadap negara-negara di sekitar
kawasan bahwa India memiliki kemampuan senjata nuklir yang kuat, terutama
kepada Cina. Sekitar dua pekan kemudian, tidak mau kalah akhirnya Pakistan juga
melakukan hal yang sama dengan uji coba bom nuklir sebagai respon terhadap
India. (Timeline: India-Pakistan relations, 2014)

Ketegangan konflik Kashmir antara kedua negara ini
terus berlanjut hingga Oktober 2001, terjadi penyerangan di Sinagar (India)
yang membuat chief minister wilayah
Kashmir di India meminta India untuk menyerang kamp-kamp pelatihan militan
dalam wilayah Pakistan, namun hal ini semakin mereda pada tahun 2003. Pada saat
itu Pakistan melakukan pelucutan senjata yang selanjutnya diikuti oleh India.
Serta kedua negara membuka kembali jalur penerbangan antar kedua negara yang
telah ditutup selama dua tahun. Selanjutnya pada tanggal 21 Februari 2007,
adanya kesepakatan kedua negara untuk menandatangani “Agreement on Reducing the Risk from Accident Relating to Nuclear
Weapons”. Sejak saat itu hubungan kedua negara semakin membaik hingga
ditandai adanya pertemuan kedua perdana menteri di Mesir untuk melawan
terorisme pada Juli 2009. (BBC, 2017)(BBC, 2017) (BBC, 2017)

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out